Sabtu, 24 April 2010

Tugas UTS 1 Mata Kuliah Pragmatik

BAB 1

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan kita. Sebagai alat komunikasi bahasa digunakan sebagai alat penyampaian pesan dari diri seseorang kepada orang lain, atau dari penutur kepada pendengar dan dari penulis ke pembaca. Manusia berinteraksi untuk menyampaikan informasi. Selain itu, orang dapat mengemukakan ide-idenya, baik secara lisan maupun secara tulisan/gambar.

Dilihat dari sudut penutur, maka bahasa itu berfungsi personal atau pribadi (menyebutnya fungsi emotif). Maksudnya, si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya. Si penutur bukan hanya mengungkapkan emosi lewat bahasa, tetapi juga memperlihatkan emosi itu sewaktu menyampaikan tuturannya. Dalam hal ini pihak si pendengar juga dapat menduga apakah si penutur sedih, marah atau gembira (Chaer, 2004 : 15).

Dilihat dari segi pendengar atau lawan bicara, maka bahasa itu berfungsi direktif, yaitu mengatur tingkah laku pendengar. Di sini bahasa itu tidak hanya membuat pendengar melakukan sesuatu, tetapi melakukan kegiatan sesuai dengan yang dimaui si pembicara. Hal ini dapat dilakukan si penutur denan menggunakan kalimat-kalimat yang menyatakan perintah, himbauan, permintaan, maupun rayuan (Chaer, 2004 : 15-16).

Jika dikaitkan antara penutur dan lawan bicara akan terbentuk suatu tindak tutur dan peristiwa tutur. Peristiwa tutur ini pada dasarnya merupakan rangkaian dari sejumlah tindak tutur yang terorganisasikan untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan tersebut merupakan isi pembicaraan.

Berkaitan dengan tindak tutur, pada penelitian ini akan dianalisa tindak tutur pada dialog dalam novel "The Bookaholic Club" karya Poppy D. Chusfani. Judul pada penelitian ini adalah "Analisa Tindak Tutur pada Dialog dalam Novel "The Bookaholic Club" karya Poppy D. Chusfani. Kami memilih judul ini, karena menurut kami, judul ini menarik untuk diteliti.

  1. Tujuan

Penelitian ini memiliki dua tujuan yakni tujuan umum dan khusus, adapun tujuan umumnya adalah untuk mendeskripsikan tindak tutur pada dialog dalam novel "The Bookaholic Club" karya Poppy D. Chusfani . Sedangkan tujuan khususnya antara lain ;

  • Mendeskripsikan bentuk tindak tutur lokusi dalam dialog novel "The Bookaholic Club" karya Poppy D. Chusfani.
  • Mendeskripsikan bentuk tindak tutur ilokusi dalam dialog novel "The Bookaholic Club" karya Poppy D. Chusfani.
  • Mendeskripsikan bentuk tindak tutur perlokusi dalam dialog novel "The Bookaholic Club" karya Poppy D. Chusfani.
  1. Rumusan Masalah

Adapun rumusan permasalahan penelitian ini adalah untuk mengetahui:

  • Apakah ada dan bagaimana persentase kemunculan tindak tutur lokusi dalam novel "The Bookaholic Club" karya Poppy D. Chusfani?
  • Apakah ada dan bagaimana persentase kemunculan tindak tutur ilokusi dalam film novel "The Bookaholic Club" karya Poppy D. Chusfani ?
  • Apakah ada dan bagaimana persentase kemunculan tindak tutur perlokusi dalam novel "The Bookaholic Club" karya Poppy D. Chusfani ?


 

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1.    Hakikat Pragmatik

Pragmatik mulai berkembang dalam bidang kajian linguistik pada tahun 1970-an. Kehadirannya dilatarbelakangi oleh adanya ketidakpuasan terhadap kaum strukturalis yang hanya mengkaji bahasa dari segi bentuk, tanpa mempertimbangkan bahwa satuan-satuan kebahasaan itu sebenarnya hadir dalam konteks yang bersifat lingual maupun extralingual. Diabaikannya konteks tuturan menyebabkan kaum strukturalis gagal menjelaskan berbagai masalah kebahasaan, di antaranya adalah masalah kalimat anomali.

Perkembangan lebih lanjut tentang pragmatik memunculkan berbagai batasan. Leech dalam terjemahan Oka (1993:32) mengemukakan bahwa, "Pragmatik merupakan studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar atau speech situations." Lubis (1991:4) menambahkan bahwa bahasa merupakan gejala sosial dan pemakaiannya jelas banyak ditentukan oleh faktor-faktor nonlinguistik. Faktor linguistik saja seperti kata-kata, kalimat-kalimat saja tidak cukup untuk melancarkan komunikasi.

Menurut Levinson (dalam Tarigan, 1987:33), pragmatik merupakan telaah mengenai relasi antara bahasa dengan konteks yang merupakan dasar bagi suatu catatan atau laporan pemahaman bahasa. Dengan kata lain, pragmatik adalah telaah mengenai kemampuan pemakai bahasa menghubungkan serta menyerasikan kalimat-kalimat dan konteks-konteks secara tepat. Pendapat lain dikemukakan oleh Wijana (1996:14) yang mengatakan bahwa pragmatik menganalisis tuturan, baik tuturan panjang, satu kata atau injeksi. Ia juga mengatakan bahwa pragmatik sebagai cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yakni bagaimana suatu kebahasaan itu digunakan dalam komunikasi.

Rustono (1999:5) mengatakan bahwa pragmatik adalah bidang linguistik yang mengkaji hubungan timbal balik antara fungsi dan bentuk tuturan. Gunarwan dalam Rustono (1999:4) menambahkan bahwa pragmatik adalah bidang linguistik yang mengkaji hubungan (timbal balik) fungsi ujaran dan bentuk (struktur) kalimat yang mengungkapkan ujaran.

Beberapa pendapat di atas walaupun dengan pernyataan yang berbeda tetapi pada dasarnya menunjukkan kesamaan pandangan, sebab kajian pragmatik mengacu pada penggunaan bahasa dalam kaitannya dengan konteks. Jadi dapat disimpulkan, pragmatik adalah ilmu yang menelaah bagaimana keberadaan konteks mempengaruhi dalam menafsirkan kalimat. Di sinilah letak perbedaan pragmatik dengan semantik, sebab telaah semantik bersifat bebas konteks. Dengan kata lain, persoalan yang dikaji oleh semantik adalah makna kata-kata yang dituturkan, dan bukan maksud tuturan penutur. Analisis terhadap humor Nasruddin sangat tepat bila menggunakan pendekatan pragmatik. Untuk memahami bahwa humor-humor Nasruddin tidak semata-mata untuk melucu tetapi juga mengandung maksud dan tujuan, diperlukan pemahaman terhadap konteks yang melatarbelakangi humor tersebut. Pemahaman terhadap konteks merupakan salah satu ciri pendekatan pragmatik.

2.2.    Aspek-aspek Pragmatik

Beberapa aspek situasi tutur seperti di bawah ini:

  • Penutur dan lawan tutur

    Konsep penutur dan lawan tutur ini juga mencakup penulis dan pembaca bila tuturan yang bersangkutan dikomunikasikan dalam bentuk tulisan. Aspek-aspek tersebut adalah usia, latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin, tingkat keakraban, dan sebagainya.

  • Konteks tuturan

    Konteks di sini meliputi semua latar belakang pengetahuan yang diperkirakan dimiliki dan disetujui bersama oleh penutur dan lawan tutur, serta yang menunjang interpretasi lawan tutur terhadap apa yang dimaksud penutur dengan suatu ucapan tertentu.


     

  • Tujuan tuturan

    Setiap situasi tuturan atau ucapan tentu mengandung maksud dan tujuan tertentu pula. Kedua belah pihak yaitu penutur dan lawan tutur terlibat dalam suatu kegiatan yang berorientasi pada tujuan tertentu.

  • Tuturan sebagai bentuk tindakan dan kegiatan tindak tutur

    Dalam pragmatik ucapan dianggap sebagai suatu bentuk kegiatan yaitu kegiatan tindak ujar. Pragmatik menggarap tindak-tindak verbal atau performansi-performansi yang berlangsung di dalam situasi-situasi khusus dalam waktu tertentu.

  • Tuturan sebagai produk tindak verbal

    Dalam pragmatik tuturan mengacu kepada produk suatu tindak verbal, dan bukan hanya pada tindak verbalnya itu sendiri. Jadi yang dikaji oleh pragmatik bukan hanya tindak ilokusi, tetapi juga makna atau kekuatan ilokusinya.(Leech, 1993:19)

Pertimbangan aspek-aspek situasi tutur seperti di atas dapat menjelaskan keberkaitan antara konteks tuturan dengan maksud yang ingin dikomunikasikan.

2.3.    Teori Tindak Tutur

Tindak tutur dilakukan setiap orang sejak bangun pagi sampai tidur kembali. Ribuan kalimat telah diucapkan selama sehari. Tidak pernah dipikirkan bagaimana terjadinya kalimat-kalimat yang diucapkan, kenapa kalimat tertentu diucapkan, bagaimana kalimat itu dapat diterima lawan tutur dan bagaimana lawan tutur mengolah kalimat-kalimat itu kemudian memberikan jawaban terhadap rangsangan yang diberikan, sehingga dengan demikian dapat berdialog berjam-jam lamanya. Searle mengemukakan bahwa secara pragmatis setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur, yaitu tindak lokusi, tindak ilokusi, dan tindak perlokusi (Wijana, 1996:17).

  • Tindak Lokusi (locutionary act)

    Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. Tuturan ini disebut sebagai The act of saying something. Dalam tindak lokusi, tuturan dilakukan hanya untuk menyatakan sesuatu tanpa ada tendensi atau tujuan yang lain, apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Tindak lokusi relatif mudah untuk diindentifikasikan dalam tuturan karena pengidentifikasiannya cenderung dapat dilakukan tanpa menyertakan konteks tuturan yang tercakup dalam situasi tutur (Parker melalui Wijana, 1996:18). Dalam kajian pragmatik, tindak lokusi ini tidak begitu berperan untuk memahami suatu tuturan.

  • Tindak Ilokusi (illocutionary act)

    Tindak ilokusi ialah tindak tutur yang tidak hanya berfungsi untuk menginformasikan sesuatu namun juga untuk melakukan sesuatu. Tuturan ini disebut sebagai The act of doing something. Contoh, kalimat 'Saya tidak dapat datang' bila diucapkan kepada teman yang baru saja merayakan pesta pernikahannya tidak saja berfungsi untuk menyatakan bahwa dia tidak dapat menghadiri pesta tersebut, tetapi juga berfungsi untuk melakukan sesuatu untuk meminta maaf. Tindak ilokusi sangat sukar dikenali bila tidak memperhatikan terlebih dahulu siapa penutur dan lawan tutur, kapan dan di mana tindak tutur itu terjadi, dan sebagainya.

    Searle dalam Leech (1993:164-166) membagi tindak ilokusi ini menjadi lima yaitu asertif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklarasi.

  1. Tindak asertif merupakan tindak yang menjelaskan apa dan bagaimana sesuatu itu adanya, artinya tindak tutur ini mengikat penuturnya pada kebenaran atas apa yang dituturkannya (seperti menyatakan, mengusulkan, melaporkan)
  2. Tindak komisif ialah tindak tutur yang berfungsi mendorong penutur melakukan sesuatu. Ilokusi ini berfungsi menyenangkan dan kurang bersifat kompetitif karena tidak mengacu pada kepentingan penutur tetapi pada kepentingan lawan tuturnya (seperti menjanjikan, menawarkan, dan sebagainya)
  3. Tindak direktif yaitu tindak tutur yang berfungsi mendorong lawan tutur melakukan sesuatu. Pada dasarnya, ilokusi ini bisa memerintah lawan tutur melakukan sesuatu tindakan baik verbal maupun nonverbal (seperti memohon, menuntut, memesan, menasihati)
  4. Tindak ekspresif merupakan tindak tutur yang menyangkut perasaan dan sikap. Tindak tutur ini berfungsi untuk mengekspresikan dan mengungkapkan sikap psikologis penutur terhadap lawan tutur (seperti mengucapkan selamat, memberi maaf, mengecam)
  5. Tindak deklaratif ialah tindak tutur yang berfungsi untuk memantapkan atau membenarkan sesuatu tindak tutur yang lain atau tindak tutur sebelumnya. Dengan kata lain, tindak deklaratif ini dilakukan penutur dengan maksud untuk menciptakan hal, status, keadaan yang baru (seperti memutuskan, melarang, mengijinkan).

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa pemahaman terhadap tindak ilokusi merupakan bagian sentral untuk memahami tindak tutur.

  • Tindak Perlokusi (perlocutionary act)

    Tindak perlokusi yaitu hasil atau efek yang ditimbulkan oleh ungkapan itu pada pendengar sesuai dengan situasi dan kondisi pengucapan kalimat (Nababan dalam Lubis, 1999:9). Tuturan ini disebut sebagai The act of affecting someone. Sebuah tuturan yang diutarakan oleh seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary force) atau efek bagi yang mendengarnya. Efek atau daya pengaruh ini dapat secara sengaja atau tidak sengaja dikreasikan oleh penuturnya. Tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi lawan tutur disebut dengan perlokusi. Tindak perlokusi ini biasa ditemui pada wacana iklan. Sebab wacana iklan meskipun secara sepintas merupakan berita tetapi bila diamati lebih jauh daya ilokusi dan perlokusinya sangat besar.


 

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1.    Identitas Novel dan Sinopsis

    Judul Novel    :    The Bookaholic Club

    Penulis    :    Poppy D. Chusfani

    Penerbit    :    Gramedia Pustaka Utama

    Terbit        :    Jakarta, Oktober 2007

Sinopsis

Des penyihir. Tori gugup dan culun. Chira bisa melihat hantu. Erin luar biasa cantik dan populer. Keempat remaja yang tampaknya bertolak belakang ini ternyata memiliki kesamaan, merasa terkucil dan mencintai buku. Tanpa sengaja mereka berkawan.

Tanpa sengaja? Itu pikir mereka. Ada yang sengaja mempertemukan mereka, demi tugas yang harus mereka hadapi. Tugas mengerikan yang akan menghadapkan mereka pada situasi hidup dan mati, mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Keempat remaja yang menyebut diri sebagai The Bookaholic Club ini akan melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekedar mendikusikan buku.

3.2.    Teknik Pengumpulan Data

    Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data dengan tabel, yang terdiri atas percakapan, tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Percakapan yang dijadikan data analisis tidak semua diambil dari novel "The Bookaholic Club" seluruhnya, tetapi hanya sedikit sampel dialog yang diambil dengan cara random atau acak.

Dibawah ini merupakan tabel klasifikasi yang akan dijadikan panduan.

N

O

PERCAKAPAN

LOKUSI

ILOKUSI

PERLOKUSI

       
       


 

3.3.    Teknik Analisa Data

    Data keseluruhan dianalisa secara konten analisa, yakni analisa yang lebih difokuskan pada isi dari suatu wacana. Langkah-langkah yang dilakukan adalah mencatat dialog dan mengklasifikasikan bentuk pragmatik tindak tutur serta penggunaannya pada novel tersebut. Berkaitan dengan itu, hasil paparan disajikan dalam bentuk tabel klasifikasi dan frekuensi kemunculannya dinyatakan dalam persentase.


 

Untuk Bab 4 Hasil dan Pembahasan dapat didownload di link berikut:

http://www.ziddu.com/download/9590191/Bab4tulisanUTS.docx.html


 

4.2.    Persentase

    Berdasarkan tabel klasifikasi bentuk pragmatik tindak tutur pada dialog novel "The Bookaholic Club" di atas, maka kita dapat menegtahui bahwa bentuk pragmatik tindak tutur sering digunakan oleh penulis dalam menuliskan dialog-dialog dalam novel tersebut.

Berikut adalah hasil perhitungan per tabel :

  • Tabel 1
    • Lokusi    :    50%
    • Ilokusi    :    25%
    • Perlokusi    :    25%
  • Tabel 2
    • Lokusi    :    28,57%
    • Ilokusi    :    28,57%
    • Perlokusi    :    42,86%
  • Tabel 3
    • Lokusi    :    37,5%
    • Ilokusi    :    37,5%
    • Perlokusi    :    25%
  • Tabel 4
    • Lokusi    :    14,29%
    • Ilokusi    :    57,14%
    • Perlokusi    :    28,57%

    Berikut hasil perhitungan keseluruhan :

  • Lokusi        :    36,84%
  • Ilokusi        :    34,21%
  • Perlokusi        :    28,95%

    4.3.    Interpretasi

    Berdasarkan Persentase di atas, terlihat bahwa bentuk pragmatik tindak tutur Lokusi-lah yang paling banyak muncul dengan persentase kemunculannya hingga 36,84%. Di urutan kedua ada tindak tutur ilokusi dengan persentase hingga 34,21% dan yang paling sedikit muncul adalah tindak tutur perlokusi yakni hanya 28,95%.


 

BAB 5

PENUTUP

5.1.    Kesimpulan

    Kesimpulan yang diperoleh setelah penelitian kecil ini dilakukan adalah sebagai berikut :

  • Bentuk pragmatik berdasarkan tindak tutur dibedakan menjadi tiga, yaitu Lokui, Ilokusi, dan Perlokusi.
  • Setelah diteliti ternyata dalam wacana tulis novel "The Bookaholic Club" karya Poppy D. Chusfani banyak terdapat bentuk pragmatik tindak tutur.
  • Berdasarkan analisis dan tabel klasifikasi yang telah dilakukan di atas terhadap dialog dalam novel tersebut, ternyata tindak tutur "LOKUSI-lah" yang paling banyak muncul dengan persentase 36,84%. Dan yang paling sedikit muncul adalah tindak tutur "PERLOKUSI" dengan persentase 28,95%.

    5.2.    Saran

    Setelah kita mengetahui bentuk pragmatik yang dianalisis dalam makalah ini dan memahaminya, sebaiknya kini kita menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari melalui komunikasi dengan orang lain, baik lisan maupun dalam bentuk tulisan. Karena akan lebih baik atau sopan bila kita menggunakannya


 

DAFTAR PUSTAKA

Tarigan, Henry Guntur. 1990. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa

Rahardi, R. Kunjana. 2005. PRAGMATIK: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga

Chaniago, Sam Mukhtar. 1997. Materi Pokok Pragmatik. Jakarta: Universitas Terbuka

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Trisaparudin. 2010. Makalah Pragmatik. www.scribd.com, diakses pada 21 Maret 2010.

Tidak ada komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini